Tubuhku mengejang disertai hilangnya kesadaranku saat hal itu terjadi. Akupun mengangguk.“Kalau begitu non rebahan aja di kasur. Bokeb putihh tenann. mbak”“Iya non?”“Sakit ngga sih, Mbak?”tanyaku ragu-ragu“Apanya yg sakit, non?”“ituu..di ‘gitu’in sama mang Narko?”tanyaku lebih jelas.“Hi hi hi mbak pikir apa ternyata itu toh? Tapi ia menekan lebih kuat. Kenapa tega sekali terhadap Mamang?” protesku pada mbak Siti saat ia sedang mengemasi pakaiannya. Dan lelaki yg beruntung itu kebetulan adalah mang Narko, yg berstatus hanya sebagai sopir keluargaku, suaminya mbak Siti.Seorang pria tua, berkulit hitam legam, bertubuh pendek dan kerempeng. Pasangan suami istri itu telah membukakan gerbang kedewasaanku malam itu sekaligus merengut kesucianku meski secara teknis aku masih tetap perawan. Samaa mamang,mbakk?!”Jantungku berdetak keras mendengar tawaran tak terduga-duga darinya itu. Kejadian barusan selalu terbayang di pelupuk mataku. Kang! Aku baru mengerti mengapa ia harus berada di posisi belakang bukannya di depan seperti saat ia bersetubuh dengan mbak Siti.




















