Bodoh, bodoh, bodoh. Pletak, pletok,sepatunya berbunyi memecah sunyi. Bokep jilbab Angin menerobos dari jendela.Masih ada waktu bebas dua jam. Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah. Betulbetul keras. Pokoknya turun.Kiri Bang..!Aku lalu menuju salon. Ini.., kutunjuk pangkal pahaku.Besok saja Sayang..! Sial. Sekarang sudahlebih lancar. Ini garagara ibukumenyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Sial. Aku tidak dapat lagimemandanginya.Kantorku sudah terlewat. Toh ia sudah seperti pasrahberada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Ia tersenyum melihatku.Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan, katanya.Ia mencaricari. Yes. Dingin.Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di ataskulit punggung. Namun, tibatibakeberanianku hilang. Ia terusmengelap pahaku. Keberuntungankah? hah..? kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah.




















