Biarpun semua dokumentasi kejadian itu—foto, video—sudah kuhapus, tetap saja kepalaku masih kuat mengingatnya. Rasa pahir dalam hatinya seperti terasa di bibirnya. Bokep Mama Aku masih laki-laki normal. Tapi waktu pemotretan itu, ada orang Jepang yang hadir. Semburan pejuku rupanya cukup kencang sehingga menerpa sampai dada dan muka Belinda. Kuketok pintu kamar kos Belinda dan kulihat dia membukakan pintu. Ah, tapi aku mulai membayangkan tubuh indah di balik pakaian itu. Belinda dan Hedy cukup akrab, mereka sering jalan bareng, bahkan Belinda pernah ikut liburan bersamaku dan Hedy. Iyalah. Bukan, aku bukan mau kencing… Tapi ada bagian tubuhku yang menjerit-jerit minta dipenuhi kebutuhannya. Itu, yang kukeluarkan barusan. “Nggak apa-apa kalau Om nggak tau atau nggak peduli…” katanya pasrah.“Bel…”“Nggak apa-apa, Om… Ini pilihanku sendiri…”Aku tidak tahu harus berbuat apa.




















