Kami sempat foto-foto dulu di depan gambar Ketua Mao di pintu utama Kota terlarang.Beberapa kali kami melambai taksi, tapi tak satu pun mau berhenti. Bokep Barat Dia mendesis-desis dan akhirnya mengerang panjang. Kami memang membawa buku kecil yang berisi terjemahan bahasa Indonesia – Mandarin. Kami bertanya ke sana kemari, tidak ada yang bisa memberi tahu dimana pintu keluar. Kedua cewek itu sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Kemaluannya aku remas-remas dari luar celana dalamnya. Aku memang selalu mengantongi korek api hotel tempat kami menginap Paling tidak menunjukkan korek api ke supir taksi, pasti dia tahu alamat hotel kami..Kami memutuskan untuk keluar dari pintu depan Kota Terlarang yang langsung berseberangan dengan Lapangan Merah. ” Ah salah sendiri, kan itu pilihan ente,” kata ku.












