Jam berapa aku berangkat. Bokep Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Aku masih mematung. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Napasnya tersengal. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Ia tersenyum. Aku menggelepar.“Sst..! Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.Aku mengambil pakaianku.




















