di mess aku merasa seperti seorang bintang yg dikelilingi para fans lawan jenis, para penghuni yg baru datang pun langsung berkenalan denganku, kami pun megobrol dan bersenda gurau satu sama lain. Bokeb dia mengoralku dan menanyakan apakah sakit atau tidak, tanpa menjawab aku hanya menjambak rambutnya dan dia pun tau harus bagaimana. sebuah bangunan rumah dari kayu dan dibangun tinggi krn tanah dibawahnya berair, jalan menuju ke mess pun terbuat dari kayu, sehingga serasa melewati dermaga. perih dan bekas darah pun kian terasa. emosiku lebih stabil, tak seperti awal – awal. dengan agak kasar dia mendorongku hingga aku telentang dan menyiram tubuhku dengan bir, dengan bernafsu dia menjilat seluruh tubuhku yg terkena tumpahan bir, agak terasa perih ketika dia menyiram vaginaku dengan bir.” jangan disitu, perih ” aku menolak ketika dia akan menyiramkan bir ke vaginakudengan rakus dan bernafsu dia menjilat klitoris dan bagian dalam vaginaku, lubang




















