Pokoknya turun.“Kiri Bang..!”Aku lalu menuju salon. Bokep SMA Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Lalu ngomong apa? Keberuntungankah? Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Sial. Si Junior sudah mengeras. Apa katanya nanti? Ah. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.Dulu aku paling anti masuk salon. Ciut. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Lalu dikocok-kocok sebentar. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut.Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok.




















