Ronde kedua jelas tinggal nerusin. Namun terhadap Kak Intan saya bersikap biasa, seolah tidak tahu apa yang telah dilakukan dengan kekasihnya. Bokep Montok Nah saya mencoba mengintip lewat lubang kunci. Saya pun terlena dalam kenikmatan, seperti terbang diawang-awang. Tapi, dari nilai yang ada di rapor dengan rata-rata delapan bisa jadi kata Guru dan teman-teman itu benar. Lama-lama mereka mulai terangsang lagi. Ingin rasanya mendapat pelukan dan ciuman khususnya dari ibuku. Dalam benak saya, yang terjadi di dalam kamar sama dengan kejadian seperti Kak Intan dan Kak Mira saat itu, ‘pergumulan’.Benar saja. Dan akhirnya kami pun sampai batas ‘perburuan’, lemas, lunglai dan bermandikan keringat. Dan mereka lantas berangkat kuliah. Tinggallah pembantu sendirian. Kepada ayah dan ibu saya juga tidak bercerita, saya pikir apa pedulinya toh sepertinya kakak saya begitu menikmati terlihat dan cara bermain dan pagutannya saat itu.Sejak kejadian itu, saya jadi sering bolos sekolah.




















