Karena gemas, kukecup berulang kali. Tapi ia menepis tanganku.“Hanya lidah, Jhony! Bokep Mama Pada ketika itulah saya menerima kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Dan ketika hanya berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya, kecupan-kecupanku bermetamorfosis ciuman yang panas dan basah.Sekarang hidungku sangat erat dengan segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Matanya berbinar-binar sayu. Jangan ada setetes pun yang tersisa! Dan..,” sesudah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.“Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Mbak juga ditumbuhi bulu-bulu.”“Persis menyerupai yang kuduga, kamu niscaya berkata jujur, apa adanya,” kata Mbak Lia sambil sedikit mendorong kursinya.“Agar kamu tidak ingin tau menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”“Sebuah kehormatan besar untukku,” jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk mencairkan pembicaraan yang kaku itu.“Kompensasinya apa?”“Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”“Bagus, saya suka.




















