Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Bokep Ojol Astaga. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Membuang napas. “Halo..?” katanya sedikit terengah. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Kali ini dengan telapak tangan. Jam berapa aku berangkat. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Ia menyentuhnya. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Aku tidak tahan. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah.




















